Crutch (1)

Hari itu adalah hari Rabu, hari dimana saya harus memresentasikan bahasan mengenai Valuation of Impacts from Observation Behavior : Demonstration dan  Direct estimation of demand curves menggunakan Cost Benefit Analysis dalam perkuliahan Pembiayaan Pembangunan. Jujur, saya belum mengerti tentang 2 chapter tersebut. Pagi hari ketika kuliah Perencanaan Infrastruktur dan Transportasi ada sebuah kertas yang tersebar berkeliling dikelas bertuliskan ajakan untuk menonton Harry Potter. Kebetulan, sudah dua kali saya batal menonton film ini. Namun begitu saya membaca lebih lanjut tertulis bahwa film dimulai dari Pkl 11.45 hingga 14.30, sedangkan perkuliahan Pembiayaan Pembangunan dlaksanakan pada Pkl.15.00. Terlintas sejenak, “mungkin gak ya bisa sampe kampus lagi dalam waktu kurang dari setengah jam dari Ciwalk?” Setelah diyakini oleh beberapa teman saya, akhirnya sayapun memutuskan untuk menonton.

Sambil menunggu jam 11.00 dan sambil membaca sedikit bahan presentasi saya, saya tiba-tiba ragu untuk jadi menonton siang itu, lagi-lagi karena merasa belum paham dengan bahan tersebut. Lama-lama keraguannya hilang dan saya semangat untuk menonton lagi. Bahkan saya ajak teman sekelompok presentasi lainnya untuk ikut menonton siang ini, karena kebetulan ia tidak datang diperkuliahan pagi, saya meng-SMS-nya “Put, mau ikut nonton Harpot gak? Jam 11.45- 14.30, bales cepet ya ke Ali”. Berhubung di himpunan tidak ada sinyal, saya belum menerima balasan darinya sampai pukul  11.15. 

Kami tiba di Ciwalk Pkl 11.30, dan sudah dikabarkan bahwa film sudah dimulai. Baru duduk didalam theatre, handphone saya bergetar dan itu adalah SMS balasan dari teman yang saya ajak tadi. “Bukannya kita ada pempem ya deb”. Saya kembali merasa bersalah karena memutuskan ikut menonton siang itu. Namun karena sudah terlanjur, akhirnya saya membalas “Iya put, tapi kan masih ada waktu setengah jam lagi buat belajar, janji deh gak telat. Mau main duluu, waktu main terakhir nih. :D”. Saya kembali melanjutkan menonton film dengan terus melihat jamtangan untuk memastikan bahwa saya tidak akan terlambat datang presentasi nanti.

Filmpun selesai pukul 14.10. Wah saya senang sebenarnya, karena masih punya banyak waktu untuk kembali ke kampus dan membaca lagi bahan presentasi itu. Saya berangkat ke Ciwalk sebelumnya dengan nebeng mobil teman. Tapi ketika keluar dari XXI saya melihat mereka tidak menuju ke arah lift, saya pikir mereka ingin makan siang dulu. Karena perasaan terburu-buru dan agak panik takut terlambat, sayapun segera mengajak teman saya yang membawa motor untuk kembali ke kampus duluan, kebetulan dia adalah teman sekelompok presentasi saya. Dia bilang “Tapi gue parkir di seberang McD, deb” Saya menjawab “Yaudah gapapa, cepet aja jalannya biar gak telat, yuk”. Tapi sepanjang menuju ke McD perasaan saya menjadi tidak enak. Tiba-tiba terlintas “Duh, coba tadi bareng Dhea aja, gak perlu jalan nih, mana udah gerimis gak punya jaket/ ponco”. (merasa menyesal)

Di depan McD ternyata kami berpapasan dengan mobil teman kami yang satu lagi, “Wah ternyata mereka gak makan dulu loh” (makin menyesal karena gak sabaran nungguin ataupun nanya tadi). Perasaan saya semakin gak enak sepanjang jalan, gerimis juga semakin deras dan saya tidak menggunakan pelindung apa-apa. Melewati jalan pelesiran yang menanjak keadaan masih aman, melewati Jalan Gelapnyawang, saya pikir teman saya akan belok dijalan Ciungwanara, ternyata ia terus melaju dengan cukup kencang melewati arah timur Gelapnyawang. Terlihat  ada mobil Katana merah akan keluar dari parkirannya. Jaraknya sudah sangat dekat dengan kami sebenarnya, dan entah kenapa tiba-tiba terlintas dipikiran saya bahwa saya terhantam dengan keras. Dan kenyataan, ketika saya membuka mata ternyata sekeliling saya sudah banyak orang berkerumun dan berteriak “ini diangkut-angkut, kasih minum, copot dulu tasnya!” Saya terlempar dari motor ke aspal dengan posisi tertidur dan jatuh dengan pantulan. Saya dipangku entah dengan siapa dan diberi minum disebuah kedai Gelapnyawang, semua orang berbicara, “Kepalanya kenapa?”, “Muntah nggak?”,  “Mana yang berdarah?”. Karena menahan sakit tidak ada pertanyaan yang saya jawab, tapi ketika kaki saya diletakkan dilantai, spontan saya menjerit “Kakinya sakiiiitt!”. Lalu orang-orang kembali berbicara “Urut-Urut, siapa yang bisa?” “Jangan-jangan, bahaya!” “bawa ke klinik aja” “bawa ke BMG aja” Tiba-tiba ada orang yang mengangkut saya masuk kedalam mobil dan membawa kemana entah saya tidak tahu.

Ketika pintu mobil dibuka dan saya diangkut saya baru sadar bahwa saya berada di UGD RS Borromeus, dan saya melihat wajah teman yang membonceng saya pucat karena panik. Susterpun mendatangi saya dan mencatat segala keluhan yang saya alami. Kemudian dokter datang mengetes kaki saya yang saat itu tidak dapat digerakkan Keatas, kebawah, ditekuk, diangkat setinggi-tingginya, begitu berulang. Tapi kaki saya belum juga dapat digerakkan dengan baik. Dokterpun memutuskan me-rontgen kaki saya. Setelah menunggu lebih kurang 3,5 jam lamanya, sambil mengobrol dengan teman-teman yang menjenguk, dokter ahli tulangpun datang. Beliau berkata dengan santai "Ya dek, kaki kamu retak, ada dua pilihan, kamu mau digips atau dioperasi?" Seketika tawa dan pembicaraan saya dengan teman-teman disana berubah jadi airmata penyesalan yang luar biasa.
“Ini dia yang namanya feeling, kalo udah gak enak yaa jangan dipaksain”

Komentar

Postingan Populer