Medan Trip (Part 1)

Ini adalah minggu kedua untuk dinas pertama saya (tanggal 8-12 Oktober 2012). Tujuan survei kali ini adalah Sumatera Utara, yaitu Kota Medan dan Kabupaten Simalungun.

Day- 1

Minggu sore Pkl.16.30 kami tiba di Bandara Polonia Medan. Sejak awal kami sudah diingatkan untuk tidak menggunakan jasa taksi bandara karena tarifnya yang ‘asal tembak’ baik jarak jauh maupun dekat. Kami dipesankan untuk menunggu taksi ‘biru’ yang sudah terkenal itu di pom bensin seberang bandara, karena tarifnya yang menggunakan argo yang sesuai.

Setelah menunggu taksi sekitar setengah jam karena antrian yang cukup banyak saat itu akhirnya taksi yang kami tunggu datang. Di jalan menuju hotel yang terletak di Jl. Surabaya, kami banyak berbincang dengan bapak pengemudi taksi itu.
D: Pak, makanan khas disini apa ajaa? Ada yang bisa kita mampirkan di jalan menuju hotel?
S: Ada. Masakan padang, dek.
D: Wah yang lain dong Pak, itu sih dimana-mana ada.
S: Hmm ada tuh ayam yang dipenyet-penyet, enak rasanya itu (logat medan).
D: Waduuh, itu lagi pak, depan kampus saya juga ada. Gak ada lagi yang lain?


Kemudian bapak itu menyebutkan aneka ragam restoran terkenal di Medan, tapi sebagian besar yang diarahkan selain masakan padang, ayam penyet adalah masakan melayu, seafood, dan makanan modern lain yang sedang “hip” di Jakarta. Hmm.. oke mungkin saya harus menunda untuk makan makanan khas Medan untuk hari pertama.

Opini pertama yang saya rasakan tentang Kota Medan ini, cukup asri, tampak jelas banyak bangunan tua yang menunjukkan bahwa kota ini memang sudah lama  terbangun, namun pembangunannya cenderung statis dan belum banyak dipengaruhi desain arsitektural modern.

Day-2

Hari kedua, saatnya kami bertugas untuk mengunjungi berbagai instansi. Kami mengunjungi 3 instansi yang sudah dikonfirmasi sebelumnya, Bappeda, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau, dan PTPN 3 sebagai badan usaha yang mengusulkan kawasan industri Sei Mangkei dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus. Alhamdulilah, hari itu survei kami lancar dan memuaskan. Sore harinya setelah survei kami bermaksud untuk jalan-jalan berkeliling Kota Medan dan mencari makanan khas (lagi), karena sebelumnya di Batam juga tidak ada makanan khas asli daerah tersebut.

Kami sengaja sholat Ashar di Masjid Raya Medan sebelum kembali ke hotel dan menghadiri undangan makan malam dengan Bapak-bapak dari PT.Pos. Sedikit gambar yang kami dokumentasikan:

Masjid Raya Medan

Arsitektural Interior Masjid Raya Medan

Menara Air PDAM Medan

Ciri Khas  RM. Bhinneka Medan

Ucok Durian
Setelah mandi dan sholat kami makan malam di RM. Bhinneka, kata Pak Supir dari PT. Pos, pejabat-pejabat dan artis kalau makan di Medan pasti ke tempat ini. Setelah kenyang dan agak mengantuk, ternyata kami masih diajak ke suatu tempat oleh Bapak-bapak dari PT.Pos itu, yaitu ke Ucok Durian. Itu adalah tempat makan durian terheboh yang pernah saya temui. Kita bebas memilih durian yang kita suka, tinggal menunjuk dan langsung mereka buka dan antarkan ke tempat kami. Jika tidak bisa memilih juga tinggal bilang mau yang panas atau yang manis.  Waktu menunjukkan jam 21.30 waktu Medan saat itu. Rasanya berdosa sekali dengan perut, makan durian sudah malam dan dalam keadaan perut kenyang. Tapi karena belum pernah menemukan tempat makan durian se-seru itu, urusan perut belakangan deh :P hehe.

Day-3

Hari ini kami sengaja merencanakan pergi ke Kabupaten Simalungun, selain mengunjungi rencana Pelabuhan Internasional Kuala Tanjung, KEK Sei Mangkei yang menjadi objek studi dalam kegiatan survei kami, kami juga berniat untuk berwisata ke Kawasan Parapat, Danau Toba. Kata orang belum lengkap kalau pergi ke Sumut tapi belum berkunjung ke Danau Toba. Untuk yang belum tau apa itu KEK Sei Mangkei, itu adalah kawasan yang ditunjuk langsung oleh pemerintah Indonesia dan disahkan oleh presiden (dalam bentuk Perpres) menjadi kawasan khusus untuk investasi dibidang ekonomi baik industri, pariwisata, logistik, maupun zona lainnya, dan kawasan ini berlokasi di kabupaten SImalungun, Provinsi Sumatera Utara, tepatnya di Kecamatan Limapuluh. Selama lebih kurang lebih 6 jam akhirnya kami tiba di Kawasan Parapat, dan saat itu waktu menunjukkan Pukul 18.00 WIB.
Pelabuhan Kuala Tanjung

KEK Sei Mangkei

KEK Sei Mangkei (2)
Walau langit sudah gelap saat itu, panorama landscape Danau Toba sungguh indah. Lampu-lampu rumah penduduk dan penginapan disekitarnyalah yang melengkapi indahnya pemandangan dimalam itu. Kamipun bergegas makan malam dan segera mencari penginapan, kami menginap di Inna Parapat Hotel (fyi hotel ini persis dipinggir danau, buka pintu berjalan 5 langkah langsung bisa berenang di pinggirnya loh. Harganya juga lumayan, 200 semalam).
Parapat Di Malam Hari

Bersambung..
Baca lanjutannya di Medan Trip (Part 2)

Komentar

Postingan Populer