Medan Trip (part 2)

Day 4

Saya bangun pagi sekali hari itu dan sangat bersemangat untuk menyambut wisata Danau Toba. Tidak terbayangkan samasekali perjalanan dinas ke Medan saat ini untuk mengunjungi Danau Toba, karena lokasinya yang sangat jauh dari Kota Medan, dan tentunya kami perlu menyewa mobil yang merepotkan. Tetapi berkat Bapak-bapak dari PT. Pos yang mendampingi kegiatan survei kami, kamipun bisa berwisata kesana.
Mandi pagi sesegera mungkin walaupun tidak disedakan air hangat di hotel ini, dan cuaca pegunungan cukup dingin semalam. Setelah makan berfoto-foto sebentar kemudian bergegas sarapan untuk mengejar perahu penyeberangan umum ke Pulau Samosir jam 8.00. Ya, rencana kami hari ini memang menyeberangi Danau Toba mengunjungi Pulau Tuk-tuk, Samosir, yuhuuu. Selama sarapan kami berbincang untuk mengubah rencana dengan menyewa boat pribadi saja jika tidak mahal karna ingin puas berjalan-jalan. Akhirnya kamipun menyewanya dengan harga 400ribu untuk mengunjungi ketiga objek wisata selama 3 jam.


View Danau Toba View
Kawasan Parapat, Danau Toba


Tujuan pertama kami adalah Pulau samosir. Waktu tempuh dari Pasar Parapat +/- 20 menit. Sesampainya di Pulau Samosir kami disambut dgn para pedagang yg menjajakan aneka buah tangan khas danau toba, dari mulai gantungan kunci, tas, baju, hingga perkakas rumah tangga dan ikan pora-pora khas Parapat. Tips untuk berbelanja disana jangan dulu langsung beli dipintu masuk karena didalam akan lebih banyak lagi , tawarlah semurah mungkin, dan perhatikan keunikannya, jangan sampai barang yang kalian beli ternyata bukan khas disana melainkan ada di setiap lokasi wisata lainnya. Semua obyek wisata di Pulau ini tidak dipungut biaya hanya terdapat kotak sumbangan disetiap lokasinya yang bertuliskan “contribution”. Yang lucu ada yang justru bertuliskan “distribution” (Hahaa, apa kata para Bule yang berkunjung yaa? Karena tidak sedikit wisman dari negara lain yang datang kesini ketika kami berkunjung).

Sigale-gale
Lokasi pertama yang kami tuju adalah Objek wisata sigale-gale. Sigale-gale adalah seorang  pejuang dr Sumatera Utara bermarga Harahap yang mati terbunuh dimedan perang. Dulu ketika 7 hari meninggalnya, penduduk menyanyikan lagu sesembahan, dan jasadnya bangun lagi dan ikut menari, namun dihari ke 8 tidak lagi sehingga penduduk membuatkan wayangnya untuk menghargai jasadnya. Di tempat ini kami para pengunjung harus mengucapkan salam “Horas!” yang keras. Terdapat tiga rumah adat yg masih ditinggali. Diantaranya adalah milik Sidjabat seorang anak pejabat PT. Indosat. Rumah-rumah tersebut didesain khusus sesuai kasta dari pemiliknya. Jika pemilik merupakan keturunan raja maka jumlah anak tangganya harus ganjil. Desain rumahmemiliki jendela khas sekaligus pintu. Tujuannya agar yang masuk ke dalam rumah harus menunduk agar sopan.
View Sigale-gale
Obyek Wisata SIgale-Gale
Makam Raja Sidabutar
Tujuan kedua di Pulau Samosir adalah Makam Raja Sidabutar. Merupakan makam raja yg dikubur di kuburan batu, dibatunya diukir pula ajudan Raja tersebut, yang bernama Said dari aceh, dan putri yang pernah berpacaran selama 10tahun dengan raja tetapi dihari pernikahannya justru ia pergi mengatakan bahwa ia membenci raja dan tidak ingin menikah dengannya. Konon katanya ini terjadi karena pengaruh sihir dari seorang pemuda yang iri, dan memiliki ilmu untuk menghilangkan pikiran dan memutarbalikkan fakta, sehingga putri yang sangat cantik dan menjadi bidadari di kampung tersebut tidak lagi menyukai raja.
View Makam Raja Sidabutar
Makam Raja Sidabutar
Museum Batak
Obyek wisata ketiga yang wajib dikunjungi adalah Museum Batak. Di Museum ini kita dapat melihat ragam perkakas rumah batak. Mulai dari pakaian adat, meja makan, peralatan makan, perkakas dapur, aksara batak, hingga uang kuno. Selain jumlah anak tangga, yang juga khas disetiap rumah Batak (rumah Bolon) adalah relief (gambar ilustrasi timbul didinding) berbentuk cicak dan buahdada (maaf red.) yang berwarna merah, putih, dan hitam. Warna putih melambangkan heaven (surga), merah melambangkan darah (keberanian setiap orang Batak), cicak sebagai makna bahwa anak-anak Batak adalah orang yang selalu lihai bergaul dan dapat hidup dimana saja, sedangkan buah dada menjelaskan bahwa anak-anak Batak menghormati wanita, terutama Ibu mereka yang menyusuinya. Orang Batak pada masa dulu dikenal sangat ramah, setiap orang (tamu) yang datang kerumahnya selalu langsung diperbolehkan untuk masuk dan bercucikaki kemudian diberi makan, Setelahnya baru ditanyakan maksud dan tujuan dari kedatangan tamu tersebut.

View Museum Batak
Museum Batak (Rumah Bolon)
 

Pulau Tuk-tuk
Setelah puas berbelanja dan mengunjungi ketiga lokasi tersebut, kami kembali ke boat dan menuju ke Pulau Tuk-tuk. Perjalanan dari Pulau Samosir ke Pulau Tuk-tuk kurang lebih hanya 5-7 menit. Pulau ini berlokasi di bagian perbatasan Pulau Samosir yang juga berada ditepian Danau Toba khusus untuk daerah wisata tepatnya penginapan. Desain bangunannyapun merupakan khas rumah adat Batak.
View Pulau Tuk-tuk
Penginapan di Pulau Tuk-tuk

Batu Gantung
Sebenarnya kami sudah cukup lelah, udara dingin disekitar Parapat juga membuat kami sedikit pusing dan tentunya saya yang alergi dingin bersin-bersin. Tapi masih ada satu obyek lagi yang perlu kami kunjungi. Jaraknya lebih jauh dibandingkan kedua pulau sebelumnya, sekitar 15 menit. Kali ini yang dikunjungi hanya tebing sebenarnya, tebing yang terdapat sebuah batu gantung. Konon katanya batu gantung ini adalah seorang gadis yang ingin terjun ke danau Toba namun tersangkut ditebing dan akhirnya mengeras menjadi batu. Gadis ini datang bersama seekor anjingnya, dan melihat pemiliknya terjun anjingnyapun ingin melindungi dengan turut melompat dan akhirnya juga menjadi batu. Berikut penampakannya.
Screenshot_2012-12-25-19-49-36
Batu Gantung

Perjalanan wisata Parapat, Danau Tobapun selesai. Sekitar 2 jam kami berada disekitar danau tersebut. Dan waktunya kami kembali ke Medan. Sebelumnya kami makan dulu di Rumah Makan Pak Pos, persis didepan gapura masuk Kawasan Wisata Danau Toba. Makanan disini enak, harganya tidak terlalu mahal, menunya prasmanan dan rasa rumahan. Menu favorit kami adalah ikan pora-pora khas Parpaat. Katanya Ibu Megawati yang dulu menyebarkan bibitnya di Danau Toba loh!

Berastagi
Perjalanan kamipun berlanjut menuju Kawasan Berastagi, pegunungan sekaligus perkebunan di Sumatera Utara. Sesampainya disana kami agak bingung “Dimana obyek wisatanya?” Ternyata memang seperti Kawasan Puncak Jawa Barat, atau Bandung yang memiliki udara dingin, suasana pegunungan, dan berkuda di perkebunan teh. Dan berhubung kami berdomisili di Bandung jadi kami sedikit menyimpulkan “yaa gini ajaa obyeknya.” hanya berkuda dan membeli buah atau bunga mungkin. Berbeda dengan mereka yang tinggal di Kota Medan dan sekitarnya yang bukan pegunungan sehingga menganggap obyek ini menarik. Namun karena perjalanan kami masih panjang sekitar 2 jam lagi ke Kota Medan, akhirnya kamipun mengunjungi salah satu kedai jagung bakar. Perjalananpun dilanjutkan kembali dan kami tiba kembali di Kota Medan pukul 19.30.

Day 5

Hari ini adalah hari terakhir kami menikmati Sumatera Utara, daan tugas survei yang seharusnya kami lakukan belum selesai (alias tertunda) karena perjalanan wisata dua hari kemarin. Kamipun menyusun tiga plan agar survey kami efektif dan perjalanan wisata kami di Medan ke lokasi-lokasi bersejarah yang belum kami kunjungi dan tempat membeli oleh-oleh tentunya dapat kami datangi satu persatu. Pagi-pagi kami berangkat ke daerah Belawan melewati tol (satu-satunya tol di Sumatera Utara, tol Belmera namanya). Setelah mengunjungi tiga lokasi survey di lokasi yang cukup berjauhan, waktu baru menunjukkan pukul 14.00. Yeaay masih banyak waktu untuk kami berwisata. Tujuan pertama adalah membeli oleh-oleh yaitu Bolu Meranti, Bika Ambon dan Pancake Durian. (hmmm enaaak :-P) Setelah semua oleh-oleh didapat barulah kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Raya dan Istana Maimun.

Istana Maimun
PhotoGrid_1349953879022

Istana Maimun adalah istana kerajaan Kesultanan Deli pada masa itu. Berlokasi di tengah fasilitas perkotaan menjadi daya tarik tersendiri bagi Istana yang didirikan tahun 1888 ini, tepatnya di Jalan Brigjen Katamso, sangat dekat dengan Masjid Raya Medan. Bangunan ini merupakan perpaduan kebudayaan arsitektural Melayu, Islam, India, dan negara lainnya. Opini saya pribadi tentang istana ini adalah sangat bagus, karena terawat dengan baik tanpa menghilangkan nilai sejarahnya seperti museum pada umumnya.

20121011_155957

Saat ini tahta kerajaanpun masih berlanjut, dan sudah memiliki 14x pergantian kesultanan. Foto diatas adalah Sultan saat ini, Sultan XIV yang diangkat sejak tahu 2005 diusianya yang masih sangat kecil.

Okee, sekian sharing perjalanan dinas saya ke Medan, dan Sumatera Utara sekitarnya. Nantikan kisah perjalanan lainnya berikutnya. Sejujurnya sejak perjalanan dinas dua minggu ini ke Batam dan Medan, hasrat saya untuk berwisata keliling Indonesia sebelum berwisata mancanegara menjadi semakin kuat, karena saya yakin Indonesia pasti lebih indah alam dan kebudayaannya dibandingkan negara lain. Semoga saya diberi kesempatan lain dan reseki tentunya untuk mengunjungi banyak tempat lainnya di Indonesia, Amiin o:)




Komentar

Postingan Populer